Senin, 20 Februari 2012

barodak, salah satu adat perkawinan sumbawa

Dalam tradisi perkawinan adat masyarakat Sumbawa, salah satu prosesi yang harus dijalani calon mempelai adalah upacara adat barodak (luluran). Dalam tradisi aslinya, calon mempelai perempuan dan laki-laki akan menjalani acara barodak di rumah masing-masing. Barodak merupakan upacara penyucian diri bagi calon mempelai perempuan dan laki-laki karena akan segera memasuki tahapan kehidupan baru yakni berumah tangga. Upacara adat barodak secara resmi dilaksanakan pada malam sebelum akad nikah di rumah masing-masing mempelai perempuan dan laki-laki.
Namun, sesungguhnya barodak bagi pengantin perempuan atau laki-laki dilaksanakan sejak persiapan pernikahan mulai dilaksanakan. Barodak (memakai odak) terkadang berlangsung hingga sebulan lamanya.
Menurut Hasanuddin, budayawan Sumbawa yang juga perias pengantin, ada tiga
tingkatan barodak yang dijalani pengantin dalam tradisi ini yakni odak mamak (mangir), odak babak (odak pusuk), dan odak ramurin. Odak mangir merupakan odak yang dipakai pertamakali yang bahannya terbuat dari ramuan sirih pinang, beras dan buah meriga (buah ini dari tanaman perdu yang mudah tumbuh, kalau
pecah dalamnya berisi kapas). Fungsinya seperti mangir untuk membersihkan tubuh
dari kotoran. Odak babak dipakai pada tahapan kedua. Odak ini terbuat dari kulit-kulit kayu pilihan dan pucuk-pucuk daun tertentu dengan beras sebagai pengikatnya. Fungsinya untuk menghaluskan kulit. Sedangkan odak atau lulur pada tahap tiga, yakni odak ramurin yang bahannya dicampur pula dengan serbuk emas (minimal air rendaman emas) dan kuning telur merpati. Odak ramurin berfungsi sebagai pengencang kulit setelah kotoran dibersihkan dan kulit telah menjadi halus dengan dua tahapan barodak sebelumnya. Odak ramurin dipakai juga pada upacara resmi barodak.

Sebelum upacara adat barodak digelar, tahapan prosesi sebelumnya bagi calon pengantin adalah pani atau maning pangantan. Pani
pangantan ada tiga proses yakni maning pangantan jeruk ayoram, mandi suci
pertama bagi calon pengantin untuk menyucikan jiwa dan raga untuk memasuki
tahapan kehidupan yang baru. Mandi ini sebagai tonggak pembatas gadis menuju
kedewasaan, untuk memasuki bahtera rumah tangga. Maning pangantan ini dilakukan
menjelang upacara resmi barodak. Dalam ramuan maning pangantan ini terdapat
perasan jeruk Sumba. Calon pengantin dikeramas dengan air merang dan santan kelapa.
Maning atau pani pangantan yang kedua adalah maning atau paning pangantan tokal
basai dan maning basasopo’ yakni mandi menjelang akad nikah dan setelah akad nikah. Ada juga mandi yang dilakukan setelah malam pengantin yang disebut maning
atau pani pangantan basasuci dan pongkas kalamung. Mandi ini merupakan mandi suci sepasang pengantin yang dilakukan dengan ramuan khusus. Seluruh proses
maning atau pani pangantan ini dilakukan oleh inaq pangantan yang juga bisa
bertindak sekaligus sebagai inaq odak.
"Sebelum mandi kembang, pengantin atau calon pengantin akan melaksanakan luluran dengan beras yang disangrai hingga hitam seperti kopi dan keramas dengan santan kelapa, kata Siti Aisyah, salah seorang Inak Odak di Taliwang Sumbawa Barat. Saat inilah
maning atau pani pangantan jeruk ayoram dilaksanaka. Air kembang untuk acara pani pangantan ini tidak ditampung
di sembarang tempat melainkan ada tempat khususnya yakni teleku’ batu. Teleku’
batu adalah wadah yang terbuat dari batu berukuran besar. Air mandi untuk
pengantin ini diberi kembang antara lain, kembang kamboja, mayang buak (bakal
kembang pinang), daun beringin, pandan dan sapu rancak. Di dalamnya juga
dimasukan sebutir telur mentah dan uang logam. Saat pani pangantan, calon
pengantin atau pengantin didudukkan pada alat tenun tradisional yang disebut
penesek yang di atasnya ditutupi kain putih.

Setelah selesai mandi, calon pengantin atau pengantin dirias dalam riasan adat
Samawa. Ia memakai kain putih khusus dengan variasi pinggiran yang disebut Kain
Kae. Di tempat barodak, telah disiapkan tempat khusus yang dihias dengan pernak-pernik Sumbawa. Tempat duduk khusus untuk barodak tersebut disebut cinroang. Cinroang terbuat dari bambu dalam bentuk ruang segi empat. Di keempat sudutnya dililit dengan kain putih. Di dalam cinroang tersebut digantung pula ketupat. Di dalam cinroang inilah, calon pengantin atau pengantin duduk di atas tikar khusus yang disebut samparumpuk yang dilapisi dengan tujuh lembar kain berwarna-warni. Tikar dan kain-kain ini dipercaya dapat menangkal niat jahat terhadap si pengantin atau calon pengantin. Maka, sebelum acara barodak, pengantin tidak boleh dilihat oleh orang lain, melainkan berada di atas loteng.
Maksudnya, untuk menghindari jika ada orang yang berniat jahat yang bisa jadi akan membuat acara pekawianan batal.
Sebelum acara inti barodak, pengantin atau calon pengantin, akan diberi makan
nasi empat warna yakni, hitam, putih, kuning dan merah yang dibuat dalam tumpeng kecil-kecil. Empat tumpeng nasi warna-warni yang di dalamnya berisi telur utuh ini masing-masing diambil sedikit untuk dimakan.

Ketika hendak dimulai upacara adat barodak, dila malam pun dinyalakan. Dila malam adalah simbol dari harapan adanya cahaya terang yang akan menyinari perjalanan perkawinan pengantin ini, termasuk juga menghindari niat jahat terhadap pengantin. Dila malam itu dipasang di atas kelapa sebagai kelengkapan
dalam prosesi barodak. Ada pula pegu berisi beras kuning. Selain itu, di arena barodak juga dihiasi dengan kembang hias bermacam-macam yang ditempelkan di batang pohon pisang kecil. Batang pisang kecil yang dipakai adalah baru memiliki lima atau enam daun. Dan, hanya tiga daunnya yang dipakai. Pohon pisang yang
dihias kembang-kembang ini ditanam di dalam pegu berisi beras. Ini juga merupakan simbol kesetiaan seperti halnya pada acara akad nikah.

Ditandai dengan seruling panjang diikuti gong genang dan baguntung dari rantok
(lesung kayu) yang ditabuh para ibu, acara barodak pun dimulai. Wajah, tangan dan kaki mulai dilulur dan kuku tangan dan kaki ditempeli dengan daun pancar yang sudah ditumbuk halus. Lulur yang dipakai pada acara barodak ini merupakan bedak tradisional yang dibuat khusus oleh orang khusus pula dan biasanya seorang wanita. Orang khusus maksudnya adalah orang yang sudah biasa dan dipercaya oleh
masyarakat setempat untuk membuat odak sesuai dengan keterampilan dan keahliannya. Orang inilah yang nantinya akan menjadi Ina Odak/ ina pangantan atau ibu asuh calon pengantin wanita selama prosesi perkawinan berlangsung.
Saat upacara secara resmi yang dihadiri undangan, calon pengantin akan diusap lulur pada wajah dan kedua tangannya. Orang
yang akan mengusapkan lulur pada wajah tangan dan kaki calon pengantin adalah
orang-orang terpilih. Orang tua-orang tua yang patut dijadikan teladan bagi
pengantin, akan mengusap odak pada wajah, tangan, dan kaki serta memberikan daun
pancar yang telah ditumbuk halus pada kuku-kuku jari tangan dan jari kaki pengantin atau calon pengantin. Mempercantik pengantin atau calon pengantin dengan daun pancar ini di Sumbawa disebut rapancar. Warna merah kuku pengantin yang ditempeli dengan daun pancar halus ini merupakan simbol bahwa orang tersebut sudah atau segera menikah. Sebagai tanda bahwa ia telah memiliki
pendamping hidup. Selama proses barodak ini berlangsung, para orang tua ini akan
memberikan nasihat-nasihat perkawinan kepada calon pengantin. Ina Odak akan
mendampingi pengantin selama barodak dan ikut memberikan nasihat.
Setelah para orang yang dituakan dan diteladani ini usai mengusap lulur pada
pengantin atau calon pengantin, giliran terakhir adalah ina odak. Sebelum
mengusap lulur, ina odak akan memercikkan air boreh yang dibuat dari kembang
tiga rupa yakni, kamboja, melati dan bunga eja. Setelah itu, dila (lampu) akan
diputar melingkari kepala hingga wajah pengantin atau calon pengantin. Ritual
ini sebagai simbol menolak hal-hal yang membahayakan bagi si pengantin selama
menjalankan kehidupan ke depan. Setelah selesai, dila malam ditiupkan di depan
wajah pengantin atau calon pengantin, lalu asapnya diambil dan ditempelkan pada
kepala pengantin atau calon pengantin.

"Bagi pernikahan yang dilakukan masih berkerabat, odak dibuat di rumah mempelai perempuan yang akan dibagi juga untuk mempelai laki-laki, dengan harapan agar cepat menyatu. Namun, jika perkawinan dilakukan dengan orang lain, bukan kerabat, maka odak dibuat masing-masing mempelai," kata Ace, panggilan akrab
Hasanuddin. Karena mereka tidak berasal dari satu
keturunan, tentu saja, masing-masing keturunan memiliki cara dan bahan odak yang berbeda dalam membuatnya.
Saat menjelang upacara Barodak, odak tersebut diantar ke kediaman laki-laki
di mana upacara barodak laki-laki diselenggarakan. "Bahan-bahan untuk membuat
odak yang dipakai saat Barodak ini dikenal dengan 44 macam tumbuhan terbaik yang
terpilih," kata Mustakim Biawan, budayawan Sumbawa. 44 macam tumbuhan
terbaik untuk lulur ini sengaja dipilih juga untuk alasan kenyamanan bagi pengantin. Karena bahan-bahan terpilih tersebut tidak akan membuat pengantin berkeringat saat resepsi pernikahan berlangsung yang biasanya menghabiskan banyak waktu. 44 macam tumbuhan ini, dalam tata hitungan Sumbawa sebagai ungkapan untuk menggenapkan jumlah demi mencapai angka sakral. Angka 44 adalah simbol yang sangat kuat yang dapat memberikan keberkahan yang paling tinggi.
Selain soal kenyamanan bagi pengantin, bahan-bahan terpilih tersebut memiliki
makna yang sangat dalam bagi kehidupan mereka di masa depan. Berbagai bahan
dasar pembuatan odak dipilihkan ramuan yang memberikan makna atau simbol
penguatan bagi nilai-nilai sebuah perkawinan atau rumah tangga. Misalnya, bahan
dasar lulur ini adalah daun sirih atau yang disebut eta. Maka eta yang dipilih
adalah sirih terbaik, tidak boleh sembarang sirih melainkan melainkan sirih yang
urat-uratnya bertemu pada satu titik. Jadi salah satu urat sirih bagian kiri sebagai simbol perempuan akan bertemu dengan urat bagian kanan sebagai simbol laki-laki dan dua titik tersebut akan bertemu pula dengan urat daun sirih yang membelah sirih tersebut menjadi dua sebagai simbol masyarakat sosial. Jadi,
filosofinya adalah, ketiga garis dari urat daun sirih tersebut akan saling bertemu dan membentuk satu titik. Artinya bahwa pernikahan tersebut diterima oleh kedua pihak dan juga masyarakat di mana tempat mereka akan menjalankan kehidupan berumahtangganya. Sehingga harapannya kehidupan mereka
akan bahagia, damai dan sejahtera.

Ada pula buah pinang, yang merupakan simbol hati yang jika dibelah rupanya akan
persis sama. Ini mengandung makna yang menggambarkan pertautan hati kedua
mempelai yang utuh dan sama. Ada juga bagik atau asam yang berwarna hitam pekat.
Asam jawa ini banyak digunakan masyarakat Sumbawa untuk membersihkan kotoran sebagai bahan lulur. Harapannya, agar perempuan yang akan menjadi istri ini
nantinya, memiliki hati yang bersih tak punya hasrat dengki pada orang lain. Ada
pula beras yang selalu ada dalam tiap ramuan odak, sebagai simbol kemakmuran
dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan.
Sejak berakhirnya upacara adat barodak, calon mempelai perempuan tidak boleh
keluar dari kamar dan ia hanya berdua dengan Ina Odak-nya untuk melanjutkan
acara barodak sembari menanti hari basai (bersatu). Secara khusus, setelah upacara adat Barodak resmi usai, mulailah peran penting Ina Odak dilaksanakan, yakni memberi nasehat sebelum akad nikah dilangsungkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar